Kampanye K-POP
Sabtu pagi di akhir september ini, diawali dengan membuka mata. lalu merogoh gawai niat hati melihat pukul berapa ini. Seketika, pikiran melambung, pergi ke pikiran semalam yang ternyata belum usai. Masih menjadi sebuah tanya besar tentang kemerdekaan bangsa ini. Proklamasi terucap lantang pada 17 Agustus 1945, namun di buku sejarah, pada tahun 1948 saja agresi militer II masih berlangsung. Akan menjadi sebuah perjalanan panjang untuk terus membaca dan tau tentang perkara itu. Pikiran yang tiba-tiba datang tadi, pergi begitu saja. Membawa jemari akhirnya menyentuh sosial media, dan akhirnya datang lagi sebuah tanya besar. Bukan lagi menjadi tanya, tapi sudah menjadi ironi. Asupan sabtu pagi bukan hanya bubur ayam apalagi nasi uduk dengan bihun goreng dan sambel kacang. Asupan pagi sabtu pagi kali ini, lengkap dengan kampanye dan K-POP. Terdengar saat aneh saat 2 premis ini bersanding. Entah konklusi macam apa yang akan tercipta.
Seperti kutu buku yang tak lagi melihat buku, tulisan yang membuat jari ini berhenti mengusap, dan tulisan tadi terus dibaca berulang. Sembari beberapa detik melihat langit-langit kamar yang sudah tak lagi putih, dan berfikir, hanya sampai sini kah pemikiran orang ini?. Tidak ada niat menyalahkan apalagi menyudutkan. Insan di dunia ini, memiliki hak untuk berfikir dan mengeluarkan aspirasi serta argumennya. Tak ada yang melarang, tak ada yang marah, jika memang semua manusia punya jiwa menghargai yang tinggi. Naas, jiwa menghargai sesama manusia saja sudah hilang. Argumen bukan lagi sebuah karya dalam berfikir, tapi jadi karya sastra untuk menjatuhkan. Semoga apa yang ku tuangkan detik ini bukan karya sastra menjatuhkan. Tenang, banyak titik 5 paragraf pun hanya argumen. Sembari jari ini menari diatas papan ketik pun, pikiran ini tak usai memikirkan antara kampanye dan K-POP. Sudah dua hal yang jauh peruntukannya. Alih-alih membahas K-POP, berarti sedang membahas tentang perkembangan musik ataupun profesi.
Kali ini berbeda. K-POP disandingkan dengan praktik politik. Mungkin, bagi sebagaian orang K-POP memiliki sisi yang kurang disukai. Seperti, dari segi berpakaian dan ke fanatik-an. Tapi tidak semua orang. Kembali lagi, siapapun yang ada di dunia ini, berhak mengeluarkan pendapat. Namun kali ini, K-POP menjadi bahan untuk berargumen yang nanti nya bisa membuat citra partai ini terlihat sangar amat sempurna. Dua hal yang berbeda konsepsi disandingkan. Dengan label, bahwa K-POP membuat wanita terlihat tidak memiliki urat malu karena segi berpakainnya. Membuat wanita, memuja idolanya seperti Tuhan. Sadar atau tidak, yang terbesit dipikiran saat ini adalah, konsep pengendalian diri. Hal ini berkaitan erat dengan masing-masing orang. Mungkin dengan komentar atau perkataan, kita dapat mengendalikan manusia. Tapi hanya dalam skala yang kecil. Sangat berbeda, ketika kita mengatur, mengontrol, mengendalikan diri kita sendiri. Tuhan menciptakan semesta dan segala isinya, dengan hal-hal yang sangat beragam. Inilah, fungsi dari menghargai itu terlihat. Silahkan berkampanye, tapi coba lihat cara seperti apa yang digunakan. Coba lihat bagaimana kondisi di sekeliling kita. Coba lihat bagaimana mereka (Pecinta K-POP), yang bisa jadi lebih taat ibadahnya dibanding diri kita saat ini. Jangan kaget, tidak jarang manusia hanya membenarkan apa yang dilihat dengan mata lahir. Tidak dengan nurani ataupun lain sisi.
Way Sulung,2020
Komentar
Posting Komentar